« Home | Demokrasi Kita Hari Ini » | Tragedi Ujian Nasional » | Memburu Beasiswa, Upaya Mengubah Nasib (3) : » | The Longest Day, 21 June 2006 » | Is Globalisation a New? (part 2) » | Di Home of Football Saat Piala Dunia » | Memburu Beasiswa, Upaya Mengubah Nasib (2) : » | Ketika Eriksson dan masyarakat Inggris bertaruh… » | Chevening pada 'pukulan ketiga' » | Selamat Ulang Tahun, Shakespeare! » 

06 July 2006 

Football, the Working Class Ballet

Swastika, London

"On November 15 2000, Peter Taylor gave me the greatest honour of my career in making me captain of England and fulfilling my childhood dream," demikian kata David Beckham saat dengan emosional menyatakan mundur dari posisinya selaku kapten timnas Inggris. Tentunya, berita ini memenuhi media cetak dan elektronik Inggris sepanjang hari Minggu hingga Senin 03 Juli 2006.

Foto Beckham dengan ekspresi duka tak terperi menghiasi halaman depan berbagai surat kabar hari ini. Bahkan berita ini diulang hingga setidaknya tiga kali dalam program Breakfast di BBC 1 tadi pagi. Penyajian pertama dan kedua sebagai hard news, sementara yang ketiga kalinya dengan kemasan short feature perjalanan karir pesepak bola berusia 31 tahun ini. Disini sosok Beckham ditampilkan layaknya pahlawan, meski mengakhiri karirnya saat Inggris terdepak di babak perempat final Piala Dunia.

Terlihat nyata betapa warga Inggris berduka saat tim asuhan Sven Goran Eriksson ini harus takluk melalui tendangan penalti pada Portugal Sabtu lalu. Saya serahkan analisa pertandingan pada para pengamat sepak bola. Saya lebih tertarik pada drama yang menyertainya. Ketika itu saya dan tujuh orang teman lain menonton pertandingan menegangkan ini di Vue cineplex, di area Islington, London. Kapan lagi nonton sepak bola di layar bioskop? Gratis lagi! Untuk pertama kalinya saya di dalam bioskop dengan penonton yang tiap beberapa menit sekali bersorak atau bertepuk tangan. Sekeliling saya tentunya dipenuhi suporter Inggris dengan kaos putih-merah dengan tak lupa mengibarkan bendera St. George’s Cross. Pria di samping saya menangkupkan tangan di dadanya dan komat-kamit berdoa setiap kali Inggris mendapat kesempatan tendangan sudut atau penalti.

Ketika selesai perpanjangan waktu dan kedudukan masih saja 0-0, seorang teman beranjak keluar. Katanya dia tidak sanggup melihat Inggris kalah melalui adu penalti. Lho? Padahal kan belum dieksekusi… Rupanya intuisi teman saya itu tepat adanya. Jerit tangis dan teriakan kemarahan seketika bergemuruh saat Inggris harus kandas 1-3 di kaki Portugal. Segera setelah keluar dari cineplex, berbagai pemandangan emosional tersaji. Beberapa pria tampak marah-marah dan menceracau tak keruan. Sementara seorang pria menangis sesenggukan di bahu kekasihnya. Sang perempuan pun mengusap-usap kepala pasangannya sambil membisikkan kata-kata penghiburan.

Di dalam tube, suasana masih mencekam. Di setiap stasiun, ada saja suporter Inggris yang naik atau turun, semuanya tampak tertunduk lesu atau terlihat menerawang dengan tatapan kosong. Wah, sayapun terlalu asik melihat kanan kiri sampai tak sadar melewati stasiun tempat saya seharusnya turun!

Saya bukan pendukung tim Inggris, tapi sempat berandai-andai Inggris berhasil mewujudkan lirik lagu “We’re Gonna Win The Cup” yang dalam sebulan terakhir sangat sering di putar di radio. Terbayang betapa serunya berada di London saat mereka berpesta menyambut sang piala. Kini saya dan jutaan suporter Inggris yang sesungguhnya harus mengubur impian itu dalam-dalam. Tak ada lagi keriaan, acara nonton gratis di layar lebar atau sembari piknik di taman. Beberapa teman yang orang Inggris bilang, bagi mereka Piala Dunia 2006 telah berakhir. Tak ada lagi antusiasme untuk mengikuti partai semifinal hingga final. Nyata terlihat, sepak bola sebagai working class ballet bagi masyarakat Inggris. ***

About us

Quote of the Day

Syndication & Statistic

    Syndicate this site (XML)

    Subscribe to Brainstorm

    Add to Google

    Blogger Templates

    eXTReMe Tracker