« Home | Memburu Beasiswa, Upaya Mengubah Nasib (1): » | How to improve your English » | Not In My Backyard » | Sukseskah desentralisasi di Indonesia? » | Déjà vu » | How do loyalty, group power work in jihadists circ... » | Questioning Australian asylum granting policy » 

19 April 2006 

Sekelumit Kisah tentang Sebuah Negeri Bernama "Estonia"


Erny Murniasih, University of Birmingham

Estonia -sebuah negara bekas blok Soviet Union- dapat dijadikan sebuah potret 'the winning of the youth'. Setelah menyatakan keluar dari Soviet Union pada tanggal 20 Agustus 1991, Estonia telah berhasil membentuk wajahnya menjadi sebentuk 'gadis' cantik yang siap disunting oleh para jejaka. Sebagai result dari upaya si 'gadis' mematut dirinya, pada tahun 2004 lalu Estonia telah resmi menjadi salah satu anggota European Union dan NATO.

Negara seluas 633 km dengan penduduk sekitar 1,4 juta dan tingkat pertumbuhan penduduk sebesar -0,64% ini telah mampu bangkit dari keterpurukan akibat kolapsnya Soviet Union. Reformasi di bidang perekonomian dan perdagangan, khususnya, ditekankan kepada modern market economy yang berorientasi pada pasar, terutama pasar Eropa. Penetrasi teknologi dari negara tetangga -seperti Sweden dan Findland- memberikan advantage tersendiri bagi Estonia sehingga memudahkan ruang gerak dalam melakukan inovasi tekhnologi. Saat ini Estonia sudah berhasil mengembangkan berbagai tekhnologi yang cukup dikenal dikalangan per-tekhnologian. Skype, misalnya, adalah salah satu contoh inovasi tekhnologi berasal dari negara yang bermottokan "United We Stand" ini.

Tak terkecuali itu, free movement of labour -seiring dengan accession to EU- memungkinkan perpindahan tenaga kerja Estonia ke negara-negara kawasan Eropa. Hal ini cukup membantu mengurangi tingkat pengangguran di negara tersebut menjadi hanya sebesar 9.2% tahun 2005. Semua ini membuat pertumbuhan ekonomi Estonia mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yaitu 7.4% pada tahun 2005, bahkan termasuk yang paling tertinggi di antara negara Eropa.

Selain tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup menggembirakan tersebut, ada satu hal cukup menarik perhatian saya selama 7 hari lawatan ke negeri yang terkenal dengan 'Medieval' style nya tersebut, yaitu kebangkitan angkatan muda Estonia di berbagai sektor perekonomian. Terlebih lagi di sektor pemerintahan. Dalam kunjungan saya ke beberapan instansi pemerintahan, betapa tercengangnya saya mendapati orang-orang yang saya kunjungi ternyata seperti 'teman sebaya'.


Ello -salah satu Deputi di Ministry of Economics Affairs- adalah contoh anak muda yang menduduki posisi papan atas di pemerintahan. Ello, yang ternyata salah satu alumi Chevening Scholar tahun 2001, dapat menduduki posisi strategis bersama dengan kawan-kawan muda lainnya. Tugas dan tanggung jawab mereka cukup besar, terlebih lagi saat Estonia sedang menggeliat dan mencari perhatian dari EU dan NATO untuk menyunting negara tersebut. Serangkaian negosiasi harus dilakukan oleh Ello dan kawan-kawannya. Dalam kesempatan informal kami sewaktu dinner di restoran 'Olde Hansa' (restoran ala zaman Medieval), saya sempat bertanya sama Ello apakah ia mengalami kesulitan waktu melakukan negosiasi dengan para 'tetua' yang ada di EU dan NATO. Dan, Ello dengan confidence menjawab bahwa pada awalnya rasa kesulitan tersebut tetap ada karena mereka dianggap sebagai sebuah negara yang belum mature karena di-manage oleh kalangan muda yang terkesan 'minim' pengalaman dalam mengatur negara. Tetapi dengan tekad dan kapasitas yang mereka miliki, mereka bisa memposisikan diri mereka secara sejajar dan profesional. Saya cukup bangga mendengar hal tersebut, karena terbukti bahwa 'anak muda' yang katanya minim pengalaman ternyata bisa memerintah sebuah negara.

Interest saya ngga berhenti sampai disitu. Setelah mengunjungi Ello dan kawan-kawannya, saya mengunjungi rekan-rekan di Ministry of Finance. Begitu saya memasuki ruang rapat, saya disambut oleh petinggi di kementrian finance yang, lagi-lagi, sebaya dengan saya. Klas Klaas, nama si pemberi ceramah buat saya di siang itu. Begitu mendengar dia memperkenalkan nama antiknya tersebut, sejenak saya tertawa kecil karena nama tersebut memiliki kesamaan dengan nama sunda yang cenderung melakukan repetisi, seperti 'ajat sudrajat', hehe.. Anyway, saat dia berceramah mengenai proses accesssion Estonia ke EU yang melalui proses yang cukup panjang dan njlimet, diam-diam saya menuliskan sesuatu dalam notebook saya, "kenapa orang-orang muda ini bisa masuk ke dalam posisi strategis di pemerintahan?"

Sungguh menarik melihat fenomena kebangkitan para pemuda di Estonia. Saya semakin penasaran, apakah ini juga berlaku di private sector. Akhirnya saya melangkahkan kaki ke sebuah enterprise yang merupakan sebuah foundation untuk mengembangkan entrepreneur skala kecil dan menengah. Saya bertemu dengan Sigrid, Direktur Enterprise Estonia, yang menurut saya sangat kompeten dalam memberikan pencerahan kepada saya tentang yayasan ini yang sudah berhasil mengembangkan jiwa kewirausahaan masyarakat Estonia. Sigrid, seorang perempuan usia 35 tahun, dengan cakap dan confidence menjelaskan bahwa mereka saat ini sedang melakukan pendekatan kepada segenap rakyat Estonia untuk bersama-sama mengembangkan perekonomian Estonia. Saya cukup tergelitik saat Sigrid menceritakan sebuah success story sekelompok anak muda Estonia yang kreatif membentuk company yang memproduksi perahu kayak. Dengan bermodalkan kemauan keras dan daya kreativitas, sekelompok anak muda tersebut telah berhasil mengembangkan bisnis mereka sehingga produk mereka sudah diekspor ke manca negara. Usaha-usaha enterpreneurship seperti ini, menurut Sigrid, sangat perlu untuk menggiatkan perekonomian Estonia.

Menilik hikmah dari perjalanan saya ke institusi-institusi tersebut, saya hampir tidak melihat kegagalan yang cukup signifikan. Korupsi, yang menjadi duri dalam daging bagi pengelolaan sebuah negara, rasanya sangat minor. Saat saya mengunjungi sebuah LSM yang bergerak dibidang research economic and development Estonia, saya menemui seorang researcher muda dan ganteng bernama Tarmo Kalvet. Tarmo, yang merupakan jebolan PhD dari UK, mengungkapkan bahwa tingkat korupsi di Estonia sangatlah rendah, bahkan hampir tidak terdengar. Dengan sallary civil servant yang cukup tinggi -bahkan equal dengan private sector- Tarmo bahkan tidak mengungkit masalah korupsi bisa membayangi pengelolaan keuangan di Estonia.

Interesting sekali bukan? Dengan jumlah sallary yang cukup fair serta pemberdayaan angkatan muda di jabatan strategis pemerintahan, tingkat korupsi di Estonia sangatlah minim. Selain itu, peraturan di bidang pengangkatan dan pemberhentian pegawai negeri juga dibuat se-fleksibel mungkin. Sistem rekrutmen civil servant tersebut tidak bersifat 'life time employment' sehingga turnover ke sektor swasta ataupun institusi lain sangat lah memungkinkan bila si PNS tersebut memutuskan ingin keluar dari institusi pemerintahan. Mari, seorang konsultan cantik berusia 36 tahun yang semula serving for the ministry of finance, bertutur bahwa ia sangat beruntung mendapatkan kesempatan berkarir di kementrian finance selama 4 tahun, sehingga saat ia memutuskan ingin menjadi konsultan di EU, ia menjadi lebih confidence. Mari, potret perempuan muda Estonia -yang merupakan salah satu penerima Chevening Scholar untuk tahun 2007- merasa bahwa empowerment terhadap angkatan muda di Estonia telah membawa perubahan yang sangat signifikan terhadap Estonia dalam melakukan penetrasi kepada pasar Eropa and the rest of the world.

Estonia, yang baru merdeka tahun 1991, telah mencapai GDP per capita sebesar $16,400 di tahun 2005. Hikmah atas keterpurukan Soviet Union seakan memacu negara tersebut untuk terus memoles dirinya untuk menjadi bagian dari 'dunia'. Angkatan muda Estonia yang me-manage negara kecil tersebut terus melakukan inovasi dan reformasi yang tak berujung (begitu kata Tarmo). Yah, kita doakan saja semoga angkatan muda tersebut tidak gamang ditengah godaan globalisasi dan kapitalis yang semakin menggila.


Apakah Indonesia bisa mengikuti jejak Estonia dalam memberikan empowerment terhadap angkatan muda di institusi pemerintahan? Well, doakan saja salah seorang penerima Chevening Scholar ini (saya, red.. hehe) bisa mewujudkan mimpi itu...

Ohya, ada satu hal lagi yang mengingatkan saya pada Indonesia waktu saya di Estonia. Saat saya mengunjungi Tartu, kota kedua terbesar setelah Tallin, saya menyempatkan diri mengunjungi proyek-proyek yang dibiayai dari EU fund, yaitu antara lain proyek pembangunan Museum Toys. Begitu saya menyusuri koridor lantai 2 yang menampilkan koleksi mainan dari berbagai negara, saya terhenyak begitu melihat 'wayang kulit' dan 'wayang golek' juga menjadi salah satu bagian dari koleksi mereka. Tak terkecuali itu, sebuah boneka dari Papua ikut menjadi bagian dari koleksi mereka... Wah, saya cukup surprais menyaksikan pemandangan itu. Wayang kulit -yang udah out of date- ternyata cukup dihargai di negeri kawasan NORDIC tersebut. Hebat lah Indonesia...


(1-7 April, 2006)


selamat yaa sudah keluar dari UK.. :-) menarik abis critanya. Bravo sudah dua artikel... kapan yang ketiga? jangan nunggu saya yaa.. kekekek..

tarmo kalvet.. skrg pembimbing akademik saya.. :)

Post a Comment

About us

Quote of the Day

Syndication & Statistic

    Syndicate this site (XML)

    Subscribe to Brainstorm

    Add to Google

    Blogger Templates

    eXTReMe Tracker