« Home | Selamat Ulang Tahun, Shakespeare! » | Is Globalisation a New? (part 1) » | Are we observing earth's sustainable destruction? » | Bumi Manusia, Pembawa Perubahan.. » | Hai Arianto! » | Sekelumit Kisah tentang Sebuah Negeri Bernama "Est... » | Memburu Beasiswa, Upaya Mengubah Nasib (1): » | How to improve your English » | Not In My Backyard » | Sukseskah desentralisasi di Indonesia? » 

02 June 2006 

Chevening pada 'pukulan ketiga'

Hadi Haryanto, Guilford

Hari itu 12 September 2005, matahari nampaknya malas bersinar, walaupun jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Setelah selesai dengan perdebatan kecil dengan supir taxi airport yang mencoba “menipu”, sampai juga di tempat tujuan, kompleks asrama University of Surrey.

Ooh my God!! He asked me to pay 70 GBP instead of 40 Pound as agreed by his cab company. Saya nggak ingin merusak hari pertama saya, akhirnya kuseret saja 2 koper besar di pelataran jalan setapak. Capek. Tapi senang. I made it, I am in the UK now… Setelah perjalanan panjang mendapatkan beasiswa, persiapan administrasi, dan perjalanan Indonesia-Inggris, Here I am. Welcome to the UK.

Sehari yang lalu, saya masih bertemu istri, si kecil Raihan, dan Nuha yang kelihatan bengong melepas ayahnya masuk ruang security check di Bandara Cengkareng tanpa mengajak mereka. Sepertinya mereka heran, “kok ayah nggak ngajak-ngajak sih?”.

“Ayah mo kemana?” Tanya si Raihan
“Ayah mo ke Inggris Raihan, mau sekolah” kata istriku
“Horee.. Raihan juga mau ke Inggris, Bunda” Saya lihat si kecil yang baru senang, setelah perjalanan Bandung-Jakarta dan makan bareng di bandara Soekarno Hatta, seperti menunggu Saya mengajaknya. Ya, biasanya Saya selalu mengajak si kecil berkeliling dan bermain. Namun tidak untuk hari itu. Dengan berat, seperti mungkin temen-teman chevening lainnya.. saya harus meninggalkan mereka, melangkah kedepan dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak menoleh ke belakang. Inilah harga sebuah cita-cita. Terima kasih atas dukungan dan pengertianmu, keluargaku?!!!

Ini bukan kali pertama saya berkunjung ke UK. Tepatnya ini yang kedua. Kunjungan pertama tahun 2001 datang ketika si kecil Nuha baru lahir. Karena bayiku terkena kuning, terpaksa masuk kembali ke rumah sakit. Dua hari sebelum mereka dipastikan keluar rumah sakit, saya berangkat ke UK. Perjalanan pertama ke UK ini, begitu berkesan bagiku. Saya lihat UK berbeda dengan negara-negara lainnya. Masyarakatnya, tata kotanya yang unik lebih welcome terhadap foreigner… menurut saya sih . Di sinilah saya mulai mendengar dari temen-temen yang bekerja di Lucent Bell Labs, Malmesbury, Swindon tentang beberapa universitas UK yang dikenal OK di teknologi seperti UMIST (sekarang University of Manchester) dan Oxford. Sampai akhirnya saya sampai pada kesimpulan dan berharap, suatu saat nanti, ingin kembali dan sekolah disini. Sepertinya saya amini pendapat seorang teman “Jika kamu sudah pernah ke Inggris, Kamu akan kesana lagi untuk yang kedua kalinya, minimal”.

Setelah balik Indonesia, saya seperti kejatuhan batu dan sadar. Empat tahun bekerja benar-benar membuatku terjerat rutinitas kesibukan kantor. Hampir saja, saya kehilangan komunitas setelah berpisah dengan sahabat-sahabat lama. Banyaknya kerjaan dan peraturan perusahaan yang kurang menguntungkan angkatanku para lulusan STT TELKOM waktu itu, telah sukses membuat kami seperti hilang harapan untuk berpikir kuliah lagi. Pada akhir 1990-an sudah ada peraturan, kalau pegawai baru belum dapat melamar tugas belajar kecuali setelah 3-5 tahun bekerja. Namun setelah teman-teman mencapai 3 tahun masa kerja, perusahaanku memutuskan untuk menghapus program tugas belajar. Dan satu-satunya cara untuk sekolah adalah cuti luar tanggungan perusahaan. Pasti berat. Karena saya harus memikirkan semua biaya kuliah dan keluarga yang harus ditinggalkan. Namun saya masih melihat jalan. Berburu Beasiswa!?!.

Tahun 2001 adalah tahun persiapan. Saya bergabung dengan milis beasiswa@yahoogroups.com, coba browsing and keep watching web beasiswa seperti ADS, Chevening dan mulai browsing universitas impian untuk jurusan electronics di UK. Misalnya Southampton, UMIST, Oxford, dan Surrey. Saya tahu ijazah belum diurus, dan saya belum tahu bagaimana bahasa Inggris saya. Awalnya saya cukup PD, karena pernah 2 tahun bekerja dalam lingkungan internasional di Regional Technical Center Indonesia, sebuah unit yang dibentuk oleh Bell Laboratories, Lucent Technologies dan perusahaan tempat saya bekerja. Semua kerjaan baik dokumen, email dan komunikasi harian hamper semuanya dilakukan dalam bahasa Inggris. Ya. Selama di RTC kami bekerja dengan expat untuk menggarap proyek-proyek berskala internasional. Dengan berbekal pengalaman ini, saya coba ikut test TOEFL, hasilnya sungguh sangat mengecewakan. TOEFL-ku cuma 485. Tapi saya coba juga apply ke ADS dengan modal nekat. Alhasil tidak dapat panggilan.

Awal 2002 saya coba apply Chevening walaupun dengan TOEFL pas-pasan. Modal saya adalah nekad. Saya tulis applikasi Chevening dengan kemampuan writing saya yang mungkin agak baik waktu itu dibandingkan kemampuan speaking dan listening. Alhamdulillah lolos seleksi Bahasa Inggris dan masuk wawancara. Hasilnya saya dapat surat cinta … “I regret that… bla..bla..bla” tertanda Mbak Inung. 
Yaah, saya cukup bersyukur untuk tembakan pertama tahun 2002 dengan TOEFL dan kualitas wawancara yang pas-pasan, bisa sampai tahap wawancara.

Saya introspeksi. Satu-satunya hambatanku adalah TOEFL.

“Mungkin bahasa inggrisku nggak hancur-hancur amat, tapi aku nggak tahu gimana ngerjain TOEFL/IELTS dengan baik” begitu saya pikir.

Akhirnya saya putuskan ambil les TOEFL di English First, untuk program 3 bulan, 3 kali per minggu, Senin, Rabu, Jumat. Awalnya capek, karena kerja masih full time jam 07.30 – 17.00, sementara kursus mulai jam 18.00, belum lagi kalau ada PR. Dan yang lebih membuatku agak nervous temen-temen kursus saya rata-rata anak SMP atau SMU yang masih fresh yaa tenaga, waktu, pikiran, apalagi kemampuan. I looked so old for an English class  Akhirnya saya bisa lulus dan dapat TOEFL 570. Alhamdulillah lumayan buat bekal hunting beasiswa 2 tahun berikutnya sesuai masa berlaku TOEFL.

Karena waktu itu Indonesia sedang ada masalah dengan Australia berikut komentar-komentar John Howard yang pedas soal Indonesia, Timor-Timur, bahaya dari utara, imigran dan lain-lain, saya agak menarik diri dari ADS (saya yakin nggak akan selamanya hahaha..), tetapi saya masih cukup nekat untuk mencoba Chevening tahun berikutnya. Bedanya dengan tahun yang lalu, kali ini saya ikut ajakan teman Mas JKW (beliau bekerja di kantor Geologi Bandung) yang punya kenalan seorang guru bahasa Inggris yang ternyata lulusan Chevening juga. Kita sepakat untuk datang ke rumah beliau, katakanlah Ibu Dwi, sekali seminggu, untuk tahu seluk beluk IELTS.

Untuk datang ke rumah beliau perjuangan sendiri. Butuh 1 jam perjalanan menggunakan motor, segera setelah pulang kerja. Dan kembali ke rumah kira-kira jam 12 malam. Hasilnya kursus masih belum menggembirakan, hasil prediction test-ku masih kepala 4.0 – 4.5. Tapi semangat masih menyala-nyala, saya putuskan apply chevening tahun 2003.

Tahun 2003, banyak teman-teman yang terbakar untuk mencoba peruntungan di Chevening. Beberapa temenku dari RTC Indonesia (3 orang kalau nggak salah) dan temen-temen kantor lainnya pada ikut test. Ya kita bertujuh ikutan test. Alhamdulillah 6 dari kita masuk sampe tahap wawancara yang saat itu berlangsung di Hotel Hilton Dago. Sambil menunggu pengumuman hasil wawancara, saya sempat “memprovokasi” teman-teman untuk belajar IELTS bareng. Wah berhasil kita sepakat urunan 100.000-an per orang untuk mendatangkan guru (native dan indonesia) dari IEDUC sebuah lembaga kursus bahasa Inggris di Bandung. Kursus berlangsung lancar untuk 10 orang anak, kira-kira sampai pertemuan kelima.

Setelah nunggu beberapa lama, saatnya kami menerima hasil test wawancara. Again, lagi-lagi dapat surat cinta dari Mbak Inung… “I regret that… bla.. bla.. but you can apply next year… “. Semua teman-temanku dapat surat cinta yang sama. Dan entah bagaimana awalnya, akhirnya teman-teman kursusku menjadi sangat-sangat sibuk untuk kursus lagi. Dan akhirnya terpaksa kursus ini dibubarkan sebelum hasil perbaikan IELTS terlihat. Waktu itu, Saya nggak tahu harus ngomong apa ke Ibu Dwi di IEDUC. Yang jelas, kursus tidak mungkin dilanjutkan lagi.

Saya sebetulnya sudah mulai kehilangan nafas untuk berburu beasiswa. Umur sudah mau melewati kepala 30 pada tahun itu. Saya berpikir tidak mungkin menggantungkan diri pada satu tali rapuh bernama beasiswa. I should keep my destiny, mencari komunitas, jaga jarak dari rutinitas dan mengasah kembali kemampuan akademik yang mulai tumpul. Tujuan saya bukan beasiswa, tapi sekolah. Itu yang membuat saya tetap melihat ke depan. Usaha dan doa terus saya lakukan bahkan di tempat yang Allah lebih bisa memaklumi saya dan bisa mendengar harapan-harapan hamba-Nya.

Alhamdulillah pertengahan 2003 saya daftar di STMB Bandung dan mulai mengambil kuliah malam. Senangnya usahaku untuk sekolah, ternyata membawa inspirasi teman-temanku untuk kuliah juga, ada yang di STMB ada yang di ITB dan Unpad. Pesan Si Doel berhasil juga ; “Ayooo sekolah….”

Pada saat saya sudah hampir melupakan beasiswa dan fokus di kuliahku di STMB; awal tahun 2004, seperti biasa Chevening membuka pendaftaran beasiswa. Temen-temenku sebagian besar sudah give up untuk mencoba lagi. Kecuali temenku yang dari RTC dua orang masih penasaran. Sehari pada saat deadline Chevening, saya ada kesempatan keluar dengan salah seorang temenku. Waktu itu pukul 18.00 WIB kita balik ke kantor. Tiba-tiba doi nyeletuk
“Had, sudah kirim belum applikasi chevening”
“Wah belum nih. Kayanya tahun ini istirakhat dulu deh…. Kamu sendiri gimana, jadi apply?” jawabku.
Doi hanya tertawa mesum “hehehe….”

Saya sulit mengartikan godaan temenku waktu itu. Bisa jadi sudah kirim atau belum. Yang jelas, setelah balik kantor, saya telpon istriku kalau hari itu saya pulang agak malam, mau kirim applikasi Chevening. Yah, akhirnya saya buka arsip lama, saya download aplikasi chevening yang baru, dan saya update sana sini. Apa yaa.. ya yang kira-kira nggak cocok lagi saya update, misalnya hobby atau dua hal yang paling berpengaruh dalam hidup/karir. Saya ubah dua-duanya supaya agak “menyentuh gitu” hahaha… Hope you know what I mean, jual diri dengan kembangan sana-sini. Belum ngerti juga ? japri aja deh … hehehe…

Yang jelas saya butuh dua jam untuk melengkapi aplikasi saya, dengan bantuan spelling checker sana-sini, dan aplikasi translator untuk mendapatkan kata-kata baru dengan konteks yang lebih pas… then I made it and send it at 22.00 WIB.

Saya baru sadar, ternyata senyuman “mesum” temenku itu sebuah pertanda misteri yang membuat hidup saya mulai berbelok dari rutinitas. Itulah pertanda atas doa-doa panjang yang terucap maupun tidak terucap oleh handai taulan, ibuku, istriku, mertuaku dan teman-temanku.

Tahun 2004 akhir, saat itu saya masih bertugas menggelar CDMA di Riau, ada call dari istriku yang mewartakan saya diterima di Chevening. Mbak Inung atau Mbak Rowena sudah membuat istriku surprise. Dan tahun 2004-2005 berlangsung sangat cepat dan melelahkan; bridging, perijinan bos yang agak tricky, handling over pekerjaan yang membuat teman-temanku merasa ketiban durian runtuh – sayangnya ini runtuh ama pohonnya.. hahaha. – demo kecilku untuk menuntut hak naik pangkat, merupakan bumbu-bumbu manis menjelang keberangkatanku ke UK. Syukurlah semua berjalan baik tanpa insiden. Bahkan akhirnya saya mendapat dukungan penuh dari para manajemen dari kantorku dan saya mendapatkan fasilitas cuti pendidikan (bukan cuti luar tanggungan). Tak terhingga rasa terima kasihku kepada mereka.

Matahari akhir summer masih saja malas menyambutku. Namun yah, minimal udara segar Guildford masih mau menyambutku, rumput-rumput hijau disana sini sedikit menghilangkan rasa lelah mengangkat dua koper besar dari tangga ke tangga yang bertebaran di universitas baruku. Tanpa terasa saya sudah berada di Surrey Court Reception, tempat saya akan tinggal 1 tahun ke depan. Mudah-mudahan apa yang ada di depan tidak seberat koper biruku yang satu ini. Huups.. haah. I made it.

Makasih bro (Martin or whoever) buat dimuatnya tulisanku. Padahal suer saya ragu2 untuk submit di chev05.. karena gayanya lebih cocok untuk blog pribadi..hehehe.. jadi malu.

Salut buat Mas Hadi yg gak gampang putus asa.. Dimana ada keinginan dsana akan ada jalan, benar gak mas? Nah..skrng ini saya sedang dilanda keinginan utk sekolah lg.Hehehe.. Dan tujuan utama saya adalah Inggris, krn bnr skali apa yg dikatakan tmn mas. Bila kita prnh ksana, pasti kita akan kembali lg (min 2x). Kebetulan saat kecil, saya prnh tinggal dsana selama 2 thn. Hal tsb yg memotivasi saya utk kembali. Hope my dream will come true..

Cheers

mantaaf mas.....saya udah tua...tapi masih kepingin kuliah di LN....trims...tulisannya membangkitkan semangat yg hilang

Post a Comment

About us

Quote of the Day

Syndication & Statistic

    Syndicate this site (XML)

    Subscribe to Brainstorm

    Add to Google

    Blogger Templates

    eXTReMe Tracker