« Home | A glimmer of hope for Borneo's forests? » | Is Globalisation a New? (part 3) » | Questioning the viability of a Pax Asia Pacifica » | Tepat Sepuluh Tahun Silam » | Memburu Beasiswa, Upaya Mengubah Nasib (4) : » | Is neoliberalism anti democracy? » | Kedipan Cristiano Ronaldo, Kegeraman Para Singa » | Football, the Working Class Ballet » | Demokrasi Kita Hari Ini » | Tragedi Ujian Nasional » 

15 August 2006 

Memburu Beasiswa, Upaya Merubah Nasib (5)

“Mulai berburu beasiswa ke luar negeri”
Asnawi Abdullah, London

Secara resmi, aku baru bisa mendaftar beasiswa untuk sekolah lagi tahun 1998. Pada saat itu aku mulai 'memburu'. Kebetulan, saat itu Prof. Kerling dari KIT Amsterdam sedang mengadakan penelitian di Aceh. Aku jadikan dia ‘sasaran’ pertama. Aku bantu dia mengolah data menggunakan Epi-Info dan SPSS.


Rupanya, Prof. Kerling sangat terkesan terhadap output kerjaku. Terus, aku meminta sarannya bagaimana supaya aku bisa ambil S2 di KIT. Kemudian dia kirim brosur dan sejumlah lain dari Belanda. Namun KIT tidak punya beasiswa, aku disuruh melamar melalui kedutaan, beasiswa Stuned atau sejenisnya. Seseorang rekanku saat itu berjanji akan membantu mencari Application Form dari kedutaan. Namun, sampai batas waktu penerimaan formulir aplikasi aku belum terima application form beasiswa itu, padahal offer letter daru universitas sudah ada. Mungkin hal ini tidak akan terjadi, seandainya pada saat itu, ada internet seperti sekarang. Baru belakangan aku tahu bahwa di internet juga kita bisa download application form. Yang jelas, kesempatan pertama hilang.

Kesempatan kedua datang, yakni beasiswa ke University of Southern California, Amerika. Ada proyek HP IV Depkes mengirimkan pegawai untuk belajar Managed Care di USA. Wilayah kerjaku, Aceh, memang tidak termasuk wilayah proyek HP IV, tetapi Dirjen Binkesmas, menawarkan kepadaku atas nama jatah Depkes. Tentu aku senang sekali, aku lengkapi semua persyaratan, offer letter juga aku terima. Namun akhirnya, aku tidak bisa berangkat, dengan alasan Aceh bukan wilayah HP IV. Aku sedikit kecewa pada saat itu. Ada beberapa pertanyaan dalam hatiku. "Kenapa aku dulu ditawarin, lagi pula ini bukan atas nama Aceh, melainkan atas nama Depkes, jadi tidak ada soal dengan Aceh bukan wilayah proyek".

Salah seorang yang baik hati dari Depkes memberikan solusi dan mengusulkan, untuk membuat surat Lolos Butuh dari Dinkes Banda Aceh. Artinya, setelah lulus nanti, dengan surat Lolos Butuh aku harus pindah dari Aceh ke Depkes Jakarta, karena aku pergi sekolah atas nama Depkes. Hal ini tentunya sangat sulit bagi Dinkes Aceh untuk melepaskan aku. Tapi dengan penuh perjuangan akhirnya aku bisa menyakinkan Kepala Dinas Kesehatan dan surat Lolos Butuhpun ditanda tangani. Masalah belum selesai, ada tarik ulur dalam perijinan, yang menurut beberapa rekanku sebenarnya bisa diselesaikan dengan duit. Namun saya tidak bisa membaca hal itu Sangat sulit dibaca bagi orang kurang pengalaman seperti aku ini. Permainan dalam hal itu sangat cantik, kalau tidak sudah banyak orang bisa masuk penjara. Akhirnya, kesempatan kedua hilang lagi.

Meskipun begitu, aku tidak pernah patah semangat. AusAID merupakan target berikutnya. AusAID sering menjadi target saya, tapi persyaratannya luar biasa banyaknya pada waktu itu: harus ada tanda tangan biro Kerjasama Luar Negeri, persetujuan ini, itu lah, yang membuat susah sebagian besar orang di luar Jakarta. Di samping itu Brosur dan Application Form dikirim oleh Depkes Pusat selalu telat bahkan ada yang satu minggu sebelum deadline. Entah disengaja atau apalah maksudnya, itu yang dialami oleh semua instansi di daerah. Syukurlah, sekarang internet menghilangkan hambatan surat menyurat dan akses kepada informasi.

Kesempatan ketiga yang menghampiriku adalah ke Mahidol University dengan beasiswa dari pemerintah Thailand untuk mengambil MSc dalam Primary Health Care. Dirjen Binkesmas menawarkan langsung kepadaku secara pribadi, sehingga Dinkes Banda Aceh tidak bisa menahan atau melarang aku. Akupun mengisi form, ikut seleksi, hingga akhirnya terpilih tiga orang: aku, seorang dari Bali, dan salah satu staf Dinkes Jawa Barat. Semua persiapan sudah selesai, namun tiba-tiba datang pengumuman bahwa dengan sangat menyesal, karena krisis ekonomi, nilai mata uang jatuh! Beasiswa yang semula untuk tiga orang, hanya dapat diberikan untuk dua orang. Tidak jelas bagaimana prosedur memilih 2 dari 3, yang jelas aku tidak terpilih, hanya diberikan kepada dua kandidat dari Bali dan Jabar. Sedih, tentu aku sedih, namun yang bisa aku ucapkankan belum rezeki aku.

Allah berkendak lain, “Aku harus berkeluarga dulu barangkali, mungkin bahaya sebagai lajang ke Thailand, banyak gangguan iman disana,” pikirku menghibur diri pada waktu itu. Yang pasti, sebulan setelah itu, aku menikah dengan adik kelas SMA-ku. Sudahlah, untuk sementara kutunda dulu keinginan sekolah, kami sepakat merencanakan punya si Kecil dulu. Alhamdulillah, satu bulan setelah anak aku lahir, aku berangkat ke Australia, kuliah di Monash University.

Berikutnya:
“Berprestasi di S-2, mengejar beasiswa S-3”

Bonjour...

Post a Comment

About us

Quote of the Day

Syndication & Statistic

    Syndicate this site (XML)

    Subscribe to Brainstorm

    Add to Google

    Blogger Templates

    eXTReMe Tracker